Tampilkan postingan dengan label Nguri-Uri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nguri-Uri. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Januari 2015

Hotel Dibya Puri tampak depan
Seputar Tugu Muda - Apabila Konco-Konco melintas di Jalan Pemuda persimpangan Johar, maka konco-konco akan menjumpai puing-puing bangunan kuno di sisi kiri jalan yang masih terlihat begitu megah namun tampak tidak terawat. Di bangunan tersebut, terpampang dengan jelas tulisan Hotel Dibya Puri. Ya, bangunan megah yang kini hanya berupa puing-puing tersebut adalah hotel yang mewah dan berjaya di masanya. Hotel yang berdiri sejak tahun 1860 ini merupakan tempat menginap para pejabat dan bangsawan Belanda. Bung Karno dan anaknya pernah menginap di sini, juga Soeharto. Pada masa pemerintahan Soeharto, semua PNS yang bertugas di Semarang diwajibkan untuk menginap di hotel ini.

Atrium Hotel Dibya Puri

Hotel yang terbengkalai sejak tahun 2007 ini meninggalkan 49 kamar, 2 kamar family, 6 kamar puri suite, 17 kamar moderate, 9 kamar standart, 5 kamar ekonomi AC, dan 10 kamar ekonomi non AC. Pada saat memasukki bangunan utama di tengah, dapat didapati sebuah lukisan yang terbuat dari untaian-untaian kawat berwarna yang membentuk lukisan pemandangan alam sungai, hewan, dan manusia. Cahaya alami juga memasukki ruangan ini karena terdapat sebuah atrium seperti halnya bangunan-bangunan kuno lainnya. Di kanan dan kiri terdapat tangga yang megah dan artistik, penutup handrailnya terbuat dari ukir-ukiran kayu yang indah. Ubin yang digunakan sebagai lantai merupakan ubin kuno yang terdapat alat penjepit untuk karpet tangga. Ruang-ruang meeting-nya pun tak kalah megah, elemen kayu banyak menghiasi dindingnya. Sayang, kemewahan dan kemegahan ini luntur dimakan usia, menjadikan hotel ini sudah tak layak huni. Banyak bagian yang sudah rubuh, lantai di lantai 2 sudah miring karena konstruksi bangunannya melemah. Ada pula yang atapnya sudah hilang, konon karena terhempas angin kencang.

Apabila hotel ini dipugar kembali, maka dapat dibayangkan betapa tingginya nilai sejarah yang dapat dihadirkan. Hotel Dibya Puri sebenarnya merupakan salah satu asset berharga yang dimiliki Kota Semarang yang kaya akan bangunan-bangunan bersejarah dan sarat makna.
(Mario Siswanto/STM/14)

Kamis, 11 Desember 2014

Seputar Tugu Muda - Pemetaan tata ruang kota mungkin memang sudah tidak bisa diajak kompromi lagi dengan sejarah. Atas nama investasi dan dinamika kota, gebyar kapitalis terus menggerus jejak histori masa lalu. Basahan salah satunya. Tak seperti namanya, kampung yang diapit oleh dua gedung gagah setingkat Hotel Novotel dan Semarang Theater ini terlihat kering tanpa geliat kehidupan. Kampung kecil dengan panjang sekitar 70 meter dan lebar 1.5 meter itu kini hanya menyisakan sumur tua yang masih kerap digunakan para pemulung dan gelandangan untuk membersihkan diri.

Menurut informasi, sejak tahun 2005 kampung yang terletak di Kelurahan Sekayu Semarang Tengah atau Jalan Bodjong (sekarang Jalan Pemuda) tersebut hanya tinggal tersisa dua kepala keluarga dan seorang pemulung yang sering tidur di emperan toko. Namanya mbah Baito, beliau merupakan penduduk asli Kampung Basahan yang rumahnya telah dibeli investor namun tetap bertahan di kampung yang juga digunakan sebagai jalan pintas antara Jalan Pemuda dan Jalan Piere Tendean ini. Kakek sebatangkara tersebut adalah generasi terakhir Kampung Basahan.

Pertemuan Jl. Pemuda (Bodjong) & Jl. Piere Tendean (Karang Tengah).
 Awal mula Kampung Basahan sendiri berasal dari seorang ulama penyebar Islam bernama Kiai Basah Sentot, beliau merupakan murid Sunan Kalijaga yang bersama sejumlah muridnya kemudian mendirikan gubug-gubung dan menjadi perkampungan. Dalam perkembangannya, jalan utama yang berada di selatan atau tembusan gang kampung itu dulu bernama Bodjong. Di sepanjang jalan itulah dulu terdapat pusat kesenian bernama Kamarhola (kemudian berubah jadi Greece). Seluruh aktivitas kesenian Kota Semarang ada di situ mulai dari pementasan wayang sampai pertunjukan bioskop. Namun kenangan hanyalah tinggal kenangan, agaknya kepentingan ekonomi lebih berbicara di kota yang juga memiliki visi menjadi wilayah perdagangan dan jasa yang berbudaya ini.
(Andika Sakti/STM/14)


Sumber foto: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10205031861105782&set=oa.295635913882450&type=1

Selasa, 09 Desember 2014

Seputar Tugu Muda - Konco-konco mungkin sudah banyak yang mengenal wayang kulit atau wayang orang, tapi bagaimana dengan wayang potehi? Salah satu budaya Tionghoa yang juga merupakan bagian dari kesenian di Semarang ini memang gaungnya tak semashur jenis-jenis wayang lainnya. Bahkan sebagian dari kita ada yang sama sekali tidak mengetahui keberadaan dari wayang khas Tiongkok Selatan tersebut. Saat ini, Potehi telah menjadi salah satu kesenian tradisional Indonesia yang terancam punah karena minimnya pengetahuan serta kepedulian kita akan keragaman budaya sendiri.

Potehi berasal dari kata “Poo” yang berarti kain, “Tay” adalah kantong dan “Hie” bermakna wayang atau boneka, jadi Potehi dapat diartikan sebagai wayang boneka dari kain. Wayang ini kemudian oleh para perantau kelompok etnis Tionghoa dibawa ke berbagai wilayah Nusantara, salah satunya Semarang. Potehi pernah berkembang di masyarakat dan digunakan sebagai media hiburan, edukasi, syarat ritual, bahkan media kritik sosial. Meskipun di kemudian hari kesenian ini tidak dapat bernafas lebih panjang karena banyak alasan; dibelenggu rezim kala orde baru kemudian tergerus kesenian modern abad 20.

Wayang Potehi
Konon, Potehi diciptakan lima narapidana penjara kota Chuan Cu, Tiongkok, pada zaman dinasti Tsang Tian masa pemerintahan Raja Tioe Ong 3000 tahun silam. Mereka melakukan pertunjukkan di balik sel dengan perlengkapan seadanya untuk menghibur diri sebelum dieksekusi mati. Tak disangka pertunjukkan itu sampai ke telinga Sang Raja yang kemudian menantang mereka untuk melakukan pertunjukkan dihadapannya. Akhirnya dengan menggunakan karakter Sang Raja sebagai lakon dan meriwayatkan kebaikan-kebaikan raja, lima narapidana tersebut dapat terbebas dari eksekusi mati. Sekarang Potehi dimainkan dalam kotak berukuran 3x3 meter berwarna merah diiringi alat musik Toa Loo (gembreng besar), Siauw Loo (gembreng kecil), Hian Na (rebab), Thua Jwee (trompet), Bien Siauw (suling), Tong Ko (gendang) dan Piak Ko (kayu silindris sepanjang 5 cm). Lakon yang biasa dimainkan saat pertunjukan siang hari adalah Sie Bing Kwie (Kuda Wasiat) sedangkan Ngoho Peng See (Lima Harimau Sakti) di pertunjukan malam, ada juga lakon-lakon lainnya seperti Poei Sie Giok, Loo Thong Sauw Pak, Hong Kiam Cun Ciu.

Di Semarang sendiri pementasan Potehi biasa dilakukan klenteng di daerah Gang Lombok atau Pecinan. Di sini juga pernah terdapat satu dalang atau bunsu Potehi bernama Thio Tiong Gie (Teguh Chandra Irawan), seorang pria kelahiran Demak 9 Januari 1933. Asal mula Thio terjun sebagai dalang Potehi ketika Jepang menguasai Indonesia tahun 1942. Thio kecil harus putus sekolah dan hijrah ke Semarang setelah semua harta benda keluarganya dirampok. Karena sangat tertarik dengan kisah She Jin Kwee Cing Tse di buku cerita Tiongkok miliknya, Thio akhirnya sering menyambangi pagelaran Potehi. Thio mulai belajar mendalang setelah disarankan Oei Sing Twei, seorang dalang Potehi yang sering ditontonnya. Sejak saat itulah Thio Tiong Gie mulai tekun mendalang dan kemudian menjadi bunsu Potehi legendaris di Semarang –bahkan di Indonesia. 

Sayang usaha seniman, budayawan sekaligus sejarawan tersebut untuk menyebarkan ajaran-ajaran kebajikan lewat Potehi harus terhenti di usianya yang ke 81. Thio Tiong Gie tutup usia pada tanggal 20 Agustus 2014 akibat komplikasi diabetes. Sampai sekarang belum ada yang dapat meneruskan Potehi di Semarang selain Oei Tjiang Hwat, asistennya. Semoga di kemudian hari akan banyak muncul Thio Tiong Gie lainnya yang dapat melestarikan salah satu kesenian yang hampir hilang ini.
(Andika Sakti/STM/14)

Minggu, 07 Desember 2014

Seputar Tugu Muda - Konco-Konco, ada satu lagi SMA favorit di kota Semarang yang terletak di Jalan Pemuda. Ya, SMA 5 Semarang. Ada perjuangan dari sang pendiri yang merasa bertanggung jawab terhadap kelangsungan pendidikan di kota Semarang.

Tahun 1964, di saat masih sedikit jumlah sekolah di Semarang dan kesempatan untuk membuka sekolah baru sangatlah tidak memungkinkan, Notaris R.M Soeprapto, Moh. Tony, Fahmi, dan Sunaryo merasa perlu melakukan sesuatu untuk kemajuan pendidikan di kota Semarang. Meskipun kondisi Indonesia saat itu sulit, para notaris tersebut tetap merasa harus ada yang dilakukan untuk memperjuangkan nasib pendidikan anak bangsa. Selanjutnya mereka menggalang bantuan dari Perwakilan P&K Jawa Tengah, sehingga lahirlah SMA 5 Semarang pada tanggal 1 Agustus 1964.

SMA 5 Semarang zaman dahulu
Dalam proses pendirian SMA 5 Semarang, masih saja ada hambatan, seperti tenaga pendidik yang belum mencukupi, terbatasnya tenaga tata usaha, dan lokasi sekolah yang sulit dicari. Dalam keadaan yang serbasulit, POLRI dengan berbaik hati meminjamkan beberapa lokal PUSDIK POLRI untuk dijadikan ruang kelas dan kantor. Dinas P&K juga membantu dengan meminjamkan tenaga pengajar dari Sekolah Pendidikan Guru (SPG).

Melihat perkembangannya yang baik, akhirnya SMA 5 Semarang disatukan dengan SPG Negeri Semarang yang berkampus di Jalan Kagok (sekarang SMA dan AKS Kartini) dan menempati 6 kelas. Dengan adanya penyatuan ini, maka semangat para pengajar dan siswa semakin tumbuh, dan perkembangan pesat nampak bagi SMA 5 Semarang.

Lalu kampus SMA 5 pindah ke bekas sekolah "Wha Ing" bersama dengan IKIP Negeri Semarang. Ada konflik juga karena SMA 5 Semarang menjadu satu dengan IKIP Negeri Semarang, namun pada akhirnya terselesaikan dan SMA 5 Semarang menempati bekas sekolah "Wha Ing" tersebut, yang kini adalah kampus tetap SMA 5 Semarang saat ini.

SMA 5 Semarang sekarang
Beratnya perjalanan SMA 5 Semarang hingga saat ini membuat mereka terus berkembang dengan pesat. Hingga saat ini, banyak sekali prestasi yang ditorehkan para siswa dari skala Jawa Tengah hingga nasional. Banyak penghargaan yang didapat terutama dari bidang sains.
(Angga/STM/14)

Sumber foto: ipawolu.blogspot.com; semarangkota.com
Seperti Notaris R.M. Soeprapto, Moh. Tony, Fahmi, dan Sunaryo. - See more at: http://sman5smg.siap-sekolah.com/sekolah-profil/#sthash.cJwx0hAd.dpuf
Seperti Notaris R.M. Soeprapto, Moh. Tony, Fahmi, dan Sunaryo - See more at: http://sman5smg.siap-sekolah.com/sekolah-profil/#sthash.cJwx0hAd.dpuf
Seperti Notaris R.M. Soeprapto, Moh. Tony, Fahmi, dan Sunaryo - See more at: http://sman5smg.siap-sekolah.com/sekolah-profil/#sthash.cJwx0hAd.dpuf
Seperti Notaris R.M. Soeprapto, Moh. Tony, Fahmi, dan Sunaryo - See more at: http://sman5smg.siap-sekolah.com/sekolah-profil/#sthash.cJwx0hAd.dpuf

Kamis, 04 Desember 2014

Seputar Tugu Muda - Jalan Pemuda Semarang terkenal memiliki deretan bangunan tua dan bersejarah. Salah satunya adalah SMA 3 Semarang. Sekolah Menengah Atas yang didirikan pada 1 November 1877 tersebut memiliki sejarah yang panjang dalam perjalanannya hingga sekarang. Selama 137 tahun ini, SMA 3 Semarang melewati pergantian nama dan fungsinya.

SMA 3 Semarang zaman dahulu

Awalnya didirikan sebagai H.B.S. (Hogereburger School) yang berubah menjadi HBS dan AMS (Algemene Meddelbare School) pada tahun 1930. SMA 3 Semarang sempah berpindah ke Gedung Baru di Jl. Oei Tiong Ham yang sekarang dikenal sebagai jalan Menteri Supeno (saat ini dipakai untuk gedung SMAN 1 Semarang) tahun 1937. Gedung ini seluruhnya untuk AMS dan MULO.

Mulai tahun 1940-an saat Zaman Pendudukan Jepang, SMA 3 Semarang digunakan untuk SMT (Sekolah Menengah Tinggi) dan tahun 1950 oleh Pemerintah Indonesia, SMA 3 Semarang digunakan untuk SMA A/C Semarang. Lalu pada tahun 1962, SMA Negeri C berubah menjadi SMA 3 Semarang dan SMA Negeri A berubah menjadi SMA 4 Semarang dengan tiga jurusan: Ilmu Pasti dan Pengetahuan Alam (Pas-Pal), Sastra Sosial, dan Sastra Budaya.


Hingga akhirnya pada tahun 1971,  SMAN 3 dan SMAN 4 digabung menjadi satu sebagai SMA III-IV. Tahun 1978, SMA IV menempati Gedung baru di daerah Banyumanik sedangkan SMA III tetap menempati gedung di jalan Pemuda sebagai SMA 3 Semarang.


 
SMA 3 Semarang saat ini

Panjangnya perjalanan SMA 3 Semarang diiringi dengan berbagai prestasi yang ditorehkan siswa-siswi dan alumninya, baik nasional maupun Internasional. Alumni SMA 3 Semarang sendiri yang sukses dan dikenal oleh masyarakat antara lain Sri Mulyani Indrawati (Mantan Menteri Keuangan), Kukrit Suryo Wicaksono (CEO Suara Merdeka), Dermawan Wibisono (Professor SBM ITB), Retno Marsudi (Menteri Luar Negeri), dan Bondan Winarno (Pakar Kuliner).
(Angga/STM/14)


Sumber foto: http://ipingberbagicerita.blogspot.com/2012/06/semarang-tempo-doeloe.html; http://dhimas87.blogspot.com/2012/02/7-sma-terbaik-di-indonesia.html